Selamat Pagi teman-teman... Mungkin bagi hampir sebagian orang, bercita-cita menjadi kaya adalah impian mereka semua. Lantas bagaimana jika nantinya kita tidak menjadi kaya dan malah terpuruk dalam kondisi finansial kita sendiri? Apapun dan bagaimanapun itu, yang jelas tidak ada salahnya kita semua bercita-cita untuk menjadi seorang yang kaya raya. Toh itu semua hanyalah sebuah cita-cita/impian, tinggal kemauan diri kita untuk mau melakukannya-lah yang akan mewujudkan semua impian dan cita-cita kita. Pada kesempatan kali ini, perkenankanlah kami untuk menyuguhkan artikel terbaru Cafe Entrepreneur Indonesia. Sebenarnya artikel ini bukanlah tulisan kami, melainkan kata-kata yang telah disampaikan oleh "AA Gym". Seorang ustadz yang sudah malang melintang di dunia perdakwahan di Indonesia. Ok, tanpa berpanjang lebar lagi, mari kita simak bersama dan pahami serta renungkan, seperti apa yang telah disampaikan oleh Ustadz AA Gym berikut ini.“Perumpamaan orang yang membelanjakan hartanya untuk mencari keridhaan Allah seperti sebuah kebun yang terletak di daratan tinggi yang disiram hujan lebat, maka kebun itu akan menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis pun memadai...” (QS al-Baqarah [2]: 265)
Salahkah Bercita-cita Menjadi Kaya?
Siapa yang menolak jadi jutawan atau milyader? Tentunya hampir semua orang pasti ingin memiliki harta yang berkecukupan. Seseorang dengan uang melimpah bisa membeli semua barang-barang yang diimpikannya. Mau baju bagus, ia bisa membelinya di toko terkenal. Ingin rumah mewah, ia juga bisa membelinya di kawasan elit. Berbagai kebutuhan maupun keinginan, bisa diwujudkan. Salahkah bila kita mengharapkan itu semua? Berharap menjadi kaya?
Saudaraku, tidaklah salah jika seseorang bercita-cita menjadi kaya. Yang salah adalah jika ada yang menyatakan dan meyakini bahwa kekayaaan merupakan ukuran kemuliaan, dan kemiskinan adalah suatu kehinaan. Padahal, kekayaan dan kemiskinan adalah ujian dari Allah untuk hamba-hamba-Nya. Islam mengajarkan kita untuk menjadi orang kaya. Rasulullah adalah seorang kaya raya. Demikian juga para sahabat. Selain kaya, mereka berprestasi sehingga dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, meskipun kaya tetapi hidup mereka sederhana. Intinya, Rasulullah dan para sahabat tetap menjalankan kehidupan yang proporsional. Karena mereka tidak hanya mengejar kebahagiaan dunia, namun akhirat pun tetap menjadi tujuan hidupnya.
Ingatlah bahwa semua kekayaan yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Sebagai hamba-Nya, kita harus dapat memanfaatkannya. Pertama, kita mendapatkannya dengan cara yang halal. Kedua, membelanjakannya dengan cara yang halal juga. Ketiga, adanya harapan bahwa semua yang telah kita lakukan mendapat ridha dari Allah SWT, termasuk kekayaan yang dimiliki menjadi barakah. Yaitu kekayaan yang membuat pemiliknya merasa qana’ah (puas dan merasa cukup), memiliki batin yang tenang dan membawa pemiliknya menjadi lebih mulia daripada kekayaan yang dimiliki.
Insya Allah, dengan begitu kekayaan dapat digunakan untuk meraih kebahagian dunia dan akhirat. Caranya, harta tersebut hendaknya dibelanjakan di jalan Allah melalui ZAKAT, INFAK dan SADHAQAH. Sebaliknya, bila kekayaan dibelanjakan hanya untuk kesenangan hawa nafsu semata, maka pemiliknya tidak akan merasa puas, tidak tenteram, dan yang lebih parah lagi, ia menjadi terhina karena kekayaan yang dimilikinya.
NB. Silahkan Anda renungkan kembali setiap kata demi kata yang terdapat dalam tulisan di atas, sebagaimana apa yang telah disampaikan oleh Ustadz AA Gym tersebut. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat berharga bagi Anda, dan tentunya dapat menjadi sebuah inpirasi dalam perjalanan kesuksesan Anda.
-Salam Entrepreneur-

















0 comments:
Posting Komentar
Be Fight to The Young Entrepreneur!