
Hari minggu pagi, Bill ke rumah temannya Haidy yang sedang asyik mengecat pagar rumahnya.
"Bill, saya nggak pernah lihat kamu mengecat pagar rumahmu sendiri, selalu kamu suruh tukang atau orang lain, dengan memberikan upah." "Loh, kenapa kamu nggak melakukan seperti saya juga?" tukas Bill heran.
"Ongkosnya khan lumayan buat beli-beli yang lain, berapa sih biasanya kamu beri upah?" "Ya sekitar 50 ribu, untuk satu hari." "Nah, khan lumayan untuk beli cat satu kaleng, irit kan?" ujar Haidy antusias.
"Memang irit, tapi kamu bisa dapatkan lebih dari itu jika kamu mau."
Mereka berdua sama-sama mempertahankan pendapatnya masing-masing. Bill buru-buru pergi karena ada janji dengan rekanan bisnisnya. Sementara Haidy masih tetap mengecat rumahnya, hingga petang hari.
Keesokan harinya mereka bertemu kembali.
"Gimana pagar rumahmu sudah selesai di cat?" tanya Bill.
"Sudah!, pagar rumahmu sendiri gimana?, selesai juga?!" "Ya dan saya mendapatkan uang Rp 300.000,- lalu saya potong buat upah tukang Rp 50.000,-, lumayan khan, pagar rumah saya selesai dicat dan saya juga mendapatkan uang." "Loh... kenapa bisa begitu?" Haidy heran mendengarnya.
"Kemarin hari minggu saya presentasi pada prospek mengenai bisnis yang saya jalankan, lalu ia membeli produk yang saya tawarkan dan orang itu antusias sekali untuk mau menjalankan bisnis yang saya jalankan ini, padahal sebelumnya ia tidak mau. Setelah saya follow up ia baru paham bisnis ini peluangnya sangat bagus."
Haidy merasa takut kehilangan uangnnya dengan melakukan mengecat sendiri pagar rumahnya, sementara Bill mengeluarkan sebagian uangnya dengan memberi upah orang.
Jika dilihat sepintas, Bill rugi karena keluar uang, sedangkan Haidy beruntung uangnya lumayan untuk beli cat pagar. Tetapi belakangan justru Bill mendapatkan keuntungan lebih besar dibandingkan uang yang dikeluarkan untuk membayar upah. RASA KEHILANGAN LEBIH BESAR DARIPADA MENDAPATKAN. Jangan-jangan Anda termasuk sama, seperti Haidy?
0 comments:
Posting Komentar
Be Fight to The Young Entrepreneur!